Indonesia adalah negara yang besar dan memilki banyak potensi didalamnya, entah itu Sumber Daya Alam (SDA ) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu dibutuhkan sosok pemikir dan inovatif dalam memanage potensi besar itu. Nah dalam hal ini pemuda adalah sosok dan aktor yang diharapakan dalam mengambil peran tersebut.

Jika kita melihat history sejarah perjuangan bangsa Indonesia, maka kita dapati bahwa sosok pemuda menjadi garda terdepan dalam perjuangan. Dimana dari ide mereka lahir oragnisasi penggerak seperti Organisasi Sarekat Dagang Islam, Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia dll. Oleh karena itu tak heran kalau bung karno pernah mengatakan “Beri  aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Namun dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini generasi muda bangsa ini seolah menjauh dari cerminan para sosok pemuda tangguh terdahulu dan kini realitanya meraka hidup dalam kondisi disrupsi moral dan akhlak. Kita dapati hampir disetiap pembritaan media , akan adanya kasus kenakalan Remaja, entah itu Kasus Narkoba, Kekerasan Seksual, Tawuran, Geng Motor dan masih banyak lagi. Oleh karena itu begitu memperihatikan kondisi pemuda kita saat ini.

Dan lantas dari kondisi memperihatinkan pemuda kita saat ini, mejadi pertanyaan penting adalah Apakah bonus demografi menjadi ancaman atau peluang bagi Indonesia ? Nah sebelum kita bahas lebih jauh, perlu kita ketahui bahwa bonus demografi merupakan kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif  (berusia 15-64 tahun)  lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun). Nah dari data dan proyeksi pemerintah, puncak bonus demografi  ini dikisaran tahun 2030 -2040 dan itu artinya teman teman yang masih diusia muda sekarang atau merasa muda hehehe, masih bisa mendapatkannya.  Kembali lagi pada inti pembahsan bahwa, Bonus demografi  menjadi peluang besar bagi bangsa Indonesia dalam kebangkitan diberbagai sektor entah itu ekonomi, teknologi,  otomotiv dll jikalau pemudanya dimanage dan disiapkan sedini mungkin baik dari pendidikan karakter dan keilmuan  yang mumpuni, namun disisi lain Bonus demografi ini akan menjadi ancaman dan masalah yang serius bagi bangsa indonesia jikalau pemudanya tidak disiapkan sedini mungkin.

Oleh karena itu menjadi pejuang adalah pilihan yang harus di ambil oleh para pemuda saat ini juga, pemuda yang punya narasi, tentunya narasi yang dimiliki pemuda ini narasi yang bersifat positif, narasi yang teruji, narasi yang terbimbing jalannya, narasi yang jelas tujuannya, sejelas langit di siang hari yang terik, tak tertutupi oleh satu pun kebohongan dan kepalsuan. Disatau sisi Pemuda tanpa narasi juga bisa saja menjadi sebab tidak produktifnya bonus demografi, Indonesia yang sebentar lagi akan menyongsong era gelombang ketiga, dimana salah satu cirinya adalah penduduk didominasi oleh usia muda. Pemuda tanpa narasi terus bergelut dengan hal-hal yang tak penting, ini karena mereka mengalami kekosongan narasi, gelisah tanpa ujung menjadi ciri utama pemuda tanpa narasi.

Maka dari itu Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memberikan solusi akan hal tersebut. Dan langkah yang paling pertama adalah bagaimana terjadinya rekontruksi para pemuda kita dari segi mental dan intelektual mereka harus terbina dengan baik dan kepada mereka harus diberikan pendidikan yang bertanggung jawab agar mereka menjadi manusia yang utuh dan berkesinambugan antara faktor-faktor intelektual , moral spritual, dan fisikal. Sehingga nantinya mereka menjadi manusia yang mengenal jati dirinya bermanfaat, dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya. Dan langkah yang kedua adalah pembinaan sedini mungkin dari lingkungan keluarga , untuk mempersiapkan generasi pemuda yang tangguh untuk menyonsong bonus demografi tersebut. Dan dalam Al Qur’an  telah diabadikan bagaimana Luqman membina anak-anaknya (kaum muda):  “”Wahai anakku, kerjakanlah shalat dan perintahkan kebaikan dan cegahlah kejahatan dan bersabarlah atas segala yang menimpamu, sesungguhnya ia termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kau palingkan wajahmu dari manusia lain (karena sombong), dan janganlah berjalan di bumi dengan congkak, sesungguhnya Allah tidak menyukai segala yang sombong dan membanggakan diri” (QS Luqman: 17-18).

Penulis : Rahmat Basalamah (Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar)
Editor: Nurizal Manarul Hidayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here