Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba Nya ialah kesempatan untuk menjumpai detik demi detik waktu yang silih berganti. Ini merupakan salah satu di antara bukti kebesaran Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Terjemahnya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran: 190)

Ayat ini sepatutnya menjadi bahan renungan kita semua, bahwa dari tiap-tiap pergantian waktu itu pasti ada mutiara hikmah yang harus kita petik. Sehingga ia tidak hanya berlalu begitu saja bagaikan hembusan angin yang tiada menyisakan bekas.

Sebagaimana dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala juga berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Terjemahnya:
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)  

Kesyukuran menjadi hal yang tak boleh terlepas dalam diri setiap mukmin atas pergantian antara waktu ke waktu yang silih berganti. Tahukah kita bahwa mereka (orang-orang) yang telah menghadap kepada Sang Rabb, begitu menyesal atas setiap detik waktu yang mereka lalui di dunia, lantas tak ada kebaikan yang menjejak di dalamnya. Lantas bagaimana dengan kita yang masih punya kesempatan itu?

Hakikat dari pergantian waktu sejatinya adalah perubahan. Umur dan usia akan semakin berkurang setiap saatnya, maka bergerak menuju kepada perubahan ke arah yang lebih baik harus senantiasa selalu dimaksimalkan.

Waktu adalah bagian dari kehidupan, jika ia berlalu maka menghilang pula bagian dari kehidupan kita. Sebagaimana perkataan Imam Hasan Al Bashri rahimahullah;

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)

Sepatutnya dengan silih bergantinya waktu yang kita lewati, mestinya ada perubahan yang kita rasakan. Bagaimana usaha agar menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok pun harus lebih baik dari apa yang kita lewatkan hari ini.

Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya pun demikian, jika hari ini sama atau bahkan lebih buruk dari hari kemarin maka dia adalah orang yang sangat merugi.

Segala bentuk ibadah dan kebaikan-kebaikan kita lainnya haruslah ada peningkatan dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu sebelumnya. Karena itulah ‘Petikan Hikmah’ yang bisa kita ambil dari setiap pergantian waktu, yaitu dengan adanya perubahan di dalamnya. Perubahan menuju ke arah yang lebih baik di masa-masa yang akan datang setelahnya.

Bermuhasabahlah! Jangan sampai kita tergolong orang-orang yang menyesal karena melalaikan waktu. Waktu adalah nikmat yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari)

Oleh karenanya, kesempatan waktu yang Allah berikan kepada kita sampai saat ini, sepatutnya kita maksimalkan untuk melakukan ketaatan dan menyiapkan bekal-bekal kebaikan

Karena sejatinya penyesalan itu hanya dirasakan oleh orang-orang yang kehilangan. Kehilangan waktu yang begitu sangat berharga dan setiap manusia tak akan mampu untuk mengulang kembali waktu yang Allah Ta’ala telah berikan kepadanya.

Penulis: Muhammad Ikram (Founder Pena Ibnu Taimiyah)
Bulukumba, 01 Februari 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here