JAKARTA – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indoneia (MUI) tersebut menyampaikan bahwa media hari ini adalah bagian dari perjuangan kita, bahkan media adalah salah jihad kontemporer.

“Alhamdulillah media saat ini menjadi perjuangan kita dan bahkan para ulama ada yang mengatakan bahwa media adalah jihad kontemporer saat ini. Media sebagai alat yang harus sesuai dengan sasaran sesuai dengan fungsinya. Tugas utama media adalah menyampaikan kebenaran. Media saat ini sangat penting. Apalagi di zaman ditengah wabah Covid-19 ini,” ungkapnya di pembukaan Silaturahim Online Media.

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Muhammad Zaitun Rasmin angkat bicara terkait kebijakan new normal yang diterbitkan pemerintah dalam hal pengendalian wabah Covid-19. Hal itu di ungkapkannya di Acara Silaturahim Online Media.

Wacana new normal yang menonjol sekarang adalah sisi ekonominya dan terkesan ini lebih banyak kepada penyelamatan ekonomi yang juga terkesan bisa mengabaikan keselamatan jiwa.

“Apakah kita siap? Para ahli sudah menjawab. Sebenarnya agak aneh wacana new normal disampaikan dan begitu cepat dipraktekkan. Kalau dia dibuat sosialisasi mungkin sebulan atau sebulan ke depan, tapi ini tidak ada indikator yang bisa digunakan kecuali secara sepintas. Yang kita dapat info di beberapa wilayah ada penurunan dari sisi terpapar maupun dari sisi yang meninggal. Tapi secara nasional, itu belum terjadi,” ungkap Ustaz Zaitun dalam Silaturahim Online dengan media, Rabu (27/5/20).

Data pekan lalu saja, kata dia, ada hari dimana terjadi peningkatan korban postif Covid-19 sampai lebih dari 900 orang. Saat ini balik lagi kepada angka yang biasa sebelumnya yakni sekitar 400-an setiap hari. Kemudian dari sisi rasio, sekarang sudah ada yang turun tapi belum pada titik kurva yang bisa dikatakan melandai, malah secara nasional grafik masih menaik. Belum titik puncak, kemudian rata lalu turun untuk kemudian bisa dianggap normal.

Dan menurutnya, new normal memang tidak harus sama keadaannya dengan sebelum Covid-19. Tapi setidak-tidaknya kurvanya itu sudah rata di atas daripada kondisi normal biasa, makanya disebut new normal. New normal ditandai dengan masih harus pakai masker, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan. Misalnya nanti kapasitas toko, restoran maksimal 50 persen dari kapasitas biasanya untuk menjalankan konsep new normal.

“Apakah itu mudah, kita lihat saja nanti. Ini tantangan bagi kita. Apa tantangannya? Kalau memang kebijakan ini tepat, apalagi sudah ada langkah-langkah yang bisa memicu masyarakat untuk lebih cepat lagi bergerak walaupun diwanti-wanti ada polisi, ada tentara yang menjaga. Kalau ini ternyata tidak tepat, maka ini beresiko bagi masyarakat. Apalagi, dalam sejarah kita mengenal adanya gelombang pertama, kedua, dan ketiga serangan wabah,” lanjut Ketua Satgas Covid-19 MUI itu.

Oleh karena itu, KH. Zaitun Rasmin mengajak teman-teman media untuk menyikapi hal itu, misalnya dengan mengingatkan pengambil kebijakan untuk berpikir kembali dan mengkaji ulang kebijakan. Menurutnya, jika media bisa melakukan, maka hal itu bisa menjadi bahan pertimbangan.

“Sehingga kita tidak terjatuh pada hal yang tidak kita inginkan. Seperti kata ahli, jangan sampai malah mengarah jadi bunuh diri massal. Terutama kalau melihat tingkat kedisiplinan masih sangat jauh di beberapa wilayah di Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Akbar
Editor: Admin MDcom

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here