Pandangan mata kita terarah pada sebuah fenomena hari ini yang menggemparkan seluruh dunia. Tidak bisa kita menafikan realitanya, seluruh aktivitas manusia menurun bahkan berpengaruh dalam berbagai sektor penggerak negeri.

Ironisnya, ujian ini mematahkan nafas kehidupan masyarakat. PHK dimana-mana, membuat sebagian masyarakat berpikir keras, dimana lagi dapat sekepal kebutuhan hidup?. Pertanyaan kemudian, Apakah keresahan ini mampu dipadamkan oleh pemerintah sebagai decision maker?

Kita optimis bahwa para pemangku kebijakan telah memikirkan masalah ini.

Itu untuk pandangan keduniaan, bahwa dibalik setiap musibah menimpa kita ada saja hal yang harus dikorbankan.

Sebagai muslim yang taat seyogyanya mengembalikan segala perkara kepada pedoman kita, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Al Qur’an memberikan solusi dari setiap keluh kesah manusia, namun terkadang kita terlalu tergesa-gesa dan tidak sabar terhadap arahan dan perintah dari ayat tersebut sehingga timbullah kekecewaan dan pengandaian. Sabarlah, karena Allah Ta’ala bersama orang-orang yang sabar.

Tidaklah tertulis indah di dalam Al Qur’an melainkan itu pernah terjadi di masa para Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala telah memberikan pengajaran lewat sosok mulai sebagai suri tauladan yang baik agar semua manusia mengambil dan mencontohi setiap langkah hidupnya dalam menghadapi takdir hidup. Beliau adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ujian yang beliau hadapi mungkin tidak seberat yang kita rasakan sekarang, penolakan terhadap dakwah beliau ditanggapi dengan cacian, hardikan bahkan sampai rencana pembunuhan. Ditambah cobaan lain, semisal kelaparan dimasa paceklik serta banyak cobaan yang lebih berat dari itu, tapi apakah beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam mundur dan mengalah dari derasnya cobaan tersebut. Tidak, justru beliau mengahadapinya dengan hikmah. Sabar dan ikhlas menjadi tamengnya, ikhtiar dan optimis sebagai penyangganya.

Tidaklah kemudian hal ini terjadi melainkan menjadi pelajaran bagi umat manusia di setiap tempat dan fase yang berbeda.

Dua dimensi yang senantiasa mengawal setiap episode kehidupan manusia. Dimensi dunia dan akhirat, namun terkadang untuk menyambung dunia ada yang mengorbankan akhiratnya. Ingat, bahwa ini adalah pengaturan dari yang Maha Pengasih. Dia yang memberikan nikmat dunia dan akhirat dan yakinlah bahwa jika dunia dikorbankan untuk kepentingan akhirat maka dunia akan tunduk dan hina didapannya. Selama kita dekat dengan-Nya maka segala hal yang hilang akan digantikan yang lebih baik. Dengan demikian, ujian semestinya menambah kekuatan iman dan membangkitkan optimisme kita.

Semoga wabah ini segera berakhir agar aktivitas-aktivitas kita sebelumnya kembali berjalan dengan normal.

Penulis: Abu Al Faruq (Mahasiswa S2 Pascasarjana UIN Alauddin Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here