Oleh : Al-Azka

( Mahasiswa Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Jurusan Manajemen Dakwah UIN Alauddin Makassar )

Virus corona atau covid-19 kini masih menjadi polemik di Negeri ibu pertiwi, virus yang awalnya menyebar di kota Wuhan, China. Kini semakin membuat resah penduduk dunia, negara-negara dunia pontang panting menghadapi gelegak arus virus yang sudah kian mematikan penduduk dunia ini, tidak terlepas Indonesia sendiri. Langkah taktis tentunya menjadi hal yang perlu di lakukan oleh para pemimpin negeri khususnya Presiden Jokowi dalam menghadapi pandemi yang semakin hari memakan korban jiwa, hingga kini di kabarkan bahwa sudah 285  warga negara Indonesia Yang meninggal dunia dan 3.295  yang di nyatakan positif dan kemungkinan ini akan bertambah jikalau pemerintah dan warga negara tidak kompak dalam bersinergi memutus mata rantai covid-19 ini. Sehingga perlunya sikap ikhtiar dalam diri pribadi maupun sesama untuk kiranya sadar dan menyadarkan seluruh warga negara agar dapat semaksimal mungkin membudayakan hidup bersih, cuci tangan , sosial distancing atau menjaga jarak serta tidak berkerumun seperti biasanya , karena dengan hal ini dapat berpotensi menyebarnya virus covid-19 ini.

Nah bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim dalam menghadapi peristiwa ini ? Apakah ini merupakan musibah? Jika covid-19 ini musibah, maka bagaimana sikap kita dalam menghadapi wabah ini ?

Menurut beberapa ulama mereka berpendapat bahwa musibah ialah

 “Kullu Makruuhin Yahullu Bi Al insan” yakni segala sesuatu yang di benci dan terjadi pada manusia.

Dari pandangan di atas berupaya memberikan pemahaman kepada kita bahwa segala sesuatu yang di benci dan terjadi kepada kita merupakan musibah. Nah apakah musibah ini datang begitu saja ? Ataukah ketentuan alam ( kosmik ) yang di perintah oleh Allah Azza Wajalla.

Tentunya sebagai muslim kita harus menyadari bahwa segala sesuatunya takkan terjadi kecuali kehendak dari Allah swt. Sebagaimana firmannya dalam

 Q.S At-Taghobun Ayat :   11

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّه 

Artinya : “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”

Nah dari ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita umat manusia khususnya shohibul muslim bahwa musibah ataupun bencana merupakan kehendak dari Allah dan tidak akan terjadi tanpa seizinnya.

Kemudian ayat ini di pertegas lagi bahwa segala sesuatu adalah ketentuan Allah yang sudah di gariskan semenjak manusia belum memijaki kakinya di atas bumi , di dalam Q.S Al-Hadid Ayat : 22-23

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Artinya : Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( Lauhul Mahfuz ) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22) Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang di berikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa sebagai umat muslim kita wajib meyakini akan takdir dan ketentuan dari Allah yang harus kita imani dengan sepenuh hati, tak ada kehendak di atas kehendaknya. Menurut Imam Al-Baidhawi menjelaskan bahwa tujuan dari musibah agar manusia tak sedih atas hilangnya kenikmatan dunia yang ia miliki dari genggamannya.

Menurut Ar-Razi dalam tafsirnya, hakikat musibah telah ditentukan oleh Allah baik yang ada di bumi , misalnya banjir, gempa, tsunami, longsor dan lainnya. Musibah yang dirasakan oleh manusia ada dua kategori sebagai ujian kebaikan maupun keburukan.

Kemudian sikap yang perlu lakukan dalam menghadapi covid-19 ini atau wabah ini ialah sabar dalam menghadapinya, yakinlah di balik ujian dan cobaan dari Allah semua akan ada hikmahnya, wabah ini telah merenggut nyawa keluarga kita, saudara kita dan berdampak dalam mempengaruhi kehidupan sosial lainnya, tiada kata dan sikap yang perlu kita lakukan selain sabar menerima segala ketentuan Allah, karena sejatinya akan beruntung bagi mereka yang jika di beri cobaan lantas tetap sabar di Jalan Allah. Sebagaimana dalam firmannya Q.S Al Baqarah Ayat : 155-156

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾

Artinya : “Dan kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan , kekurangan harta jiwa dan buah- buahan dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Yaitu orang-orang yang apabila di timpa musibah mereka mengatakan Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun”

Ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa kiranya Allah akan memberikan kita cobaan-cobaan nan musibah bagi setiap hambanya, menguji mereka agar menjadi pembelajaran bagi diri manusia seberapa sabar dalam menghadapi ujian dari Allah swt.

Menurut Imam Shuyuti dalam tafsir jalalain bahwa sabar ialah menahan diri dari sesuatu yang di benci. Orang yang ketika di timpa musibah lantas mengeluh akan musibah tersebut maka rahmat Allah tidak akan turun padanya.

Kemudian yang ketiga, sikap kita sebagai seorang muslim tentunya harus dapat mengambil ibrah atau hikmah dari peristiwa atau musibah ini, banyaknya manusia yang wafat, sampai pada ibadah yang di anjurkan kiranya dilaksanakan di rumah saja mengajarkan kepada kita bahwa tiada yang patut di takuti selain Allah swt. Kita semua adalah Mahluk kecil dan tidak fana, tiada penolong diri melainkan hanya Allah swt. Peristiwa pandemi covid-19 ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua khusunya umat muslim agar senantiasa lebih mendekatkan diri pada sang khalik yakni Allah Azza Wajalla.

Kemudian sikap berikutnya sebagai seorang muslim ialah tetap berikhtiar di jalan Allah, maksudnya apa berikhtiar ? Yah inilah usaha manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi, Ada ketentuan yang Allah sudah tetapkan namun ada pula hal yang bisa diuapayakan manusia agar merubah jalan hidupnya sendiri. Takdir Qauli : Ialah sesuatu yang sudah di tetapkan oleh Allah, Apa saja ? Misal Kematian, jodoh, Rezeki dan Umur Manusia, Namun adapula yang sifatnya dapat di ikhtiarkan yakni Takdir Syar’i ialah takdir yang dapat di upayakan dengan cara terbaik misal pandemi atau covid-19 merupakan ketentuan Allah namun kita dapat berikhtiar agar dapat menghindar agar tidak terkena virus ini salah satunya dengan beriktiar ataukah dengan mengikuti himbauan pemerintah dengan banyak mencuci tangan, menjaga jarak, tidak berkumpul ramai dan sebagainya, jangan karena kita berfikir ini sudah ketentuan Allah lantas kita pasrah akan keadaan. Dalam sebuah kisah diceritakan Umar bin Khattab ketika masuk di suatu kota Syam yang ketika itu terjadi wabah didalamnya atau Tho’un yang mematikan, seketika Umar hendak meninggalkan kota itu, lantas sahabat bertanya wahai umar, Apakah engkau hendak lari dari takdir Allah ? Umar menjawab : Aku ingin pergi dari Takdir Allah yang lain.

Artinya apa, bahwa sekiranya ketentuan akan kematian sudah di tetapkan oleh Allah tetapi kita sebagai umat manusia hendaknya berusaha, berikhtiar sebelum akhirnya kita bertawakkal atas takdir Allah. Di dalam Q.S Ar-Rad Ayat 11 Allah Berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Artinya : Allah tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri”

Dari uraian di atas pantaslah kita sebagai umat muslim dewasa dalam menyikapi peristiwa ini , dengan tidak terlalu takut dan tidak juga meremehkan atas apa yang telah terjadi, tetapi kiranya tetap waspada sembari berdoa kepada Allah swt agar virus ini cepat di angkat olehnya.

Orang yang mati dalam keadaan terkena virus termaksud mati syahid :

Sebagaimana dalam hadis Nabi di jelaskan bahwa ada lima ciri orang yang mati syahid antara lain, orang yang terkena Tho’un ( Wabah ), orang tenggelam, orang yang sakit perut, orang yang tertimpa bangunan, dan orang yang berjihad di jalan Allah ( Fisabilillah ).

Tetapi hadis ini tidak boleh di fahami secara tekstual karena kiranya dari ke lima ciri di atas di syaratkan akan mati syahid apabila mereka tertimpa demikian namun dilandasi kesabaran di dalamnya, apabila tidak maka tidak patut dikatakan mati syahid di jalan Allah swt.

Tentu kiranya dari tulisan ini yang sedikit banyak kekurangan penulis hendak berharap pada Allah swt. Agar sekiranya dapat mengangkat wabah virus corona ini, agar manusia dan penduduk dunia dapat beraktivitas seperti sediakala, jangan berhenti membaca ! Tetap jaga diri masing-masing, perbanyak dzikir dan doa pada Allah swt serta jaga kebersihan dan jarak karena sejatinya musibah akan menjadi berkah bagi orang-orang yang sabar.

Doa ketika tertimpa musibah : Allahumma Ajurni Fii Mushibati Wa Aklif li Khairan Minha

Artinya : Ya Allah Jadikanlah musibah yang tertimpa padaku menjadi pahala dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya. Aamiiin….🤲🏻🙏🏻.

#Dirumahaja

#nulisaja

#physicaldistancing

#romansadistancing

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here