Yang saya maksudkan dengan topik di atas adalah sikap moral yang seharusnya terbentuk saat menghadapi pandemi ini. Apa yang saya khawatirkan pada coretan sebelumnya bahwa istilah ‘social distancing’ bisa mengalami distorsi makna. Yang terjadi sekarang adalah jarak sosial yang semakin menganga dengan wabah corona ini. Wabah ini membuat kita semakin berjarak secara fisik karena dengan itulah kita menahan laju penyebarannya.

Namun kesulitan kehidupan kita dari jarak fisik lebih diperparah dengan munculnya sikap moral yang mencabik kekerabatan sosial yang menjadi ciri khas kita sebagai masyarakat timur, yaitu rasa sesama dan sikap saling terbuka. Kita akhirnya terseret pada efek pemahaman bahwa perjumpaan fisik atau pertemuan raga menjadi segalanya. Muncullah persoalan moral yang sangat menggejala sekarang: Ketidakjujuran.

Banyak tokoh yang sudah mengaku terjangkit karena niat baik untuk membantu penelurusan pergerakan wabah, tapi sepertinya lebih banyak yang berusaha menyembunyikan kalau diri mereka terjangkit. Bila kecenderungan untuk tidak jujur ini menggejala, peluangnya akan semakin memperparah penyebarannya dan optimisme serta sikap positif kita untuk keluar dari pandemi mendapatkan tantangan.

Pertanyaannya sekarang, mengapa ketidakjujuran itu muncul? Saya melihat dari persepsi awal yang terbangun bahwa penyakit ini bila menjangkiti kita, kehidupan sudah berakhir. Kita dari awal sudah disuguhi kosa kata penderitaan: isolasi, sesak nafas, cuci tangan tiap 30 menit, data kematian, atau isu penularan di udara. Untung baik belum ada yang pernah menyebarkan: corona menular melalui pikiran.

Pada gilirannya, masyarakat tidak ingin dipersepsi sebagai ‘penderita’ dan membuat keluarga lainnya semakin terpojok karena jarak interaksi diri yang semakin jauh. Atau dengan kata lain, mereka tidak mau keluarganya ‘dijauhi’, atau lebih ekstrim lagi ‘dikucilkan’.

Ketidakjujuran ini lebih diperparah dengan respon kelompok masyarakat yang menolak penguburan orang yang meninggalnya terindikasi covid. Sedih memang karena tak ada satupun yang ingin wafat dengan kesunyian. Tak ada yang bercita-cita jazadnya ditolak di tempat pemakaman.

Apa masalah yang harus diurai dengan lingkaran setan persoalan moral ini? Gerakan kejujuran dan secara terbuka mengakui kalau sampai terinfeksi. Perlu pula kampanye terbuka bahwa virus ini bisa mematikan manusia, tapi tidak boleh mematikan kemanusiaan.

Artinya, saat aparat membubarkan keramaian itu karena ancaman kematian manusia. Dan saat aparat menindak mereka yang menghalangi penguburan mayat itu karena ancaman kematian nilai kemanusiaan.Yang tidak kalah pentingnya, covid ini hadir untuk menjadikan dirinya sebagai musuh kita bersama (common enemy). Dalam praktek hidup, semua orang bersatu saat menemukan musuh bersama. Apakah anda generasi kolonial atau anda produk era milenial? Yang jelas anda adalah generasi covid 19.

Penulis: Prof Hamdan Juhannis MA PhD. (Rektor Kampus UIN Alauddin Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here