SEJAK himbauan masyarakat menetap di rumah akibat penyebaran virus corona yang massif, mengancam jiwa manusia. Nyatanya banyak yang mengabaikannya, tampak di jalan-jalan raya hingga lorong masih ramai, setidaknya seperti itu tergambar dalam video yang kirim seorang teman yang merekam langsung peristiwa itu.

Suasananya tidak jauh berbeda dengan hari lain, sekalipun jumlah kendaraan yang berkurang. Masyarakat belum mengindahkan himbauan pemerintah tersebut.

Menyimak realitas itu, setidaknya ada dua hal yang ditengarai penyebabnya. Pertama, ketegasan pemerintah baik pemerintah provinsi maupun kabupaten kota belum maksimal. Komunikasi pemerintah juga masih bersoal, butuh keterbukaan informasi terkait covid-19.

Publik butuh informasi update jumlah yang terpapar virus corona setiap saat bersumber dari pemerintah. Hal ini penting untuk menetralisir informasi yang berseliweran di media sosial, sebagiannya bermuatan hoax yang kepanikan, atau sebaliknya orang menganggap remeh karena menyimak video orang bebas berkeliaran.

Kedua, tingkat kesadaran masyarakat yang rendah.  Mereka bebas keluar rumah, tapi disisi lain sangat reaktif terhadap korban, terjadi penolakan mayat yang terpapar corona. Sejatinya, masyarakat patut pemerintah tetap di rumah dan tidak menolak pemakaman korban Corona demi kemanusiaan. Intinya dibutuhkan kesadaran masyarakat lebih waspada, jaga diri, jaga jarak.

Menyikapi fenomena ini, kita semestinya berikhtiar, berusaha sembari tawakkal atas ujian ini. Dalam hal ini, dibutuhkan kesabaran menerimanya sekaligus lebih waspada, berdoa agar terselamatkan serta berharap virus mematikan itu berlalu.

Sembari mengasah kesabaran, juga dapat dijadikan momentum dekatkan diri kepada Allah sekalipun beribadah dari rumah. Lebih dari itu, kita ambil ibrah, pelajaran penting untuk menetap di rumah menjalin kebersamaan dengan keluarga yang selama ini, mungkin saja, tidak terjalin baik karena kesibukan luar rumah.

Akhirnya, mari kita saling menyemangati, berpikir positif, bersabar serta membangun kesadaran kolektif, nyawa setiap manusia senilai nyawa keseluruhan manusia, kita jadi bagian dari kemanusiaan, bersama lawan virus korona dengan kesabaran dan kesadaran bersama. Tetap di rumah, selamat saudara kita dimulai dari diri kita.

Penulis: Dr. Firdaus Muhammad, MA. (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar).

Sumber: https://portalmakassar.com/opini-sabar-dan-sadar-terpapar-korona/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here