Oleh Maulana La Eda, Lc, M.A.

Saudariku… Mungkin nama Ummu Mihjan kurang familiar bagi Anda, atau bahkan sebelumnya Anda belum pernah mendengarnya. Namun, mutiara indah di balik kisah dirinya yang diabadikan oleh buku-buku hadis dan sejarah islam sangat pantas menjadi hiasan hati Anda, agar Anda bangga dan bersyukur telah dipilih oleh Allah sebagai muslimah yang taat dan istikamah di atas kemuliaan islam.

Ummu Mihjan radhiyallahu’anha adalah wanita berkulit hitam yang pada era kehidupan Nabi shallallahu’alaihi wasallam setiap hari bertugas sebagai penyapu dan pembersih lantai Masjid Nabawi, sebuah profesi mulia yang disaksikan oleh manusia-manusia paling mulia di saat itu.

Suatu hari, Ummu Mihjan wafat. Sebagian sahabat Nabi pun menyelenggarakan jenazahnya lalu menguburkannya tanpa memberitahu Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Mereka menyangka bahwa kematian Ummu Mihjan tak perlu diberitahukan kepada Rasulullah, mungkin saja karena dirinya hanyalah seorang wanita yang bertugas sebagai cleaning service yang biasanya tak terlalu dimuliakan dan dibanggakan. Begitulah persangkaan sebagian sahabat.

Namun, beberapa hari kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam merasa kehilangan diri Ummu Mihjan karena tak kelihatan lagi membersihkan lantai masjid yang tepat di samping rumah beliau. Lantas beliau pun bertanya kepada para sahabatnya tentang Ummu Mihjan. Beliau pun dikabarkan bahwa wanita itu telah wafat beberapa hari sebelumnya. Beliau lalu bersabda menyalahkan mereka, “Kenapa kalian tidak memberitahuku (tentang kabar kematiannya)?”, Para sahabat yang mendengar itu pun mengisyaratkan pada beliau bahwa Ummu Mihjan hanyalah wanita biasa, tak perlu Rasulullah diikutsertakan dalam menyelenggarakan jenazahnya. Namun, beliau malah bersabda, “Kalau begitu, tunjukkan kuburnya padaku!” Lalu beliau pun menuju kuburnya dan melakukan salat jenazah di atas kubur Ummu Mihjan.[2]

Lihatlah, bagaimana Rasulullah memberikan penghargaan sangat tinggi kepada seorang wanita hitam yang tak memiliki “kemuliaan dunia” apa pun selain sebagai cleaning service. Beliau menegaskan bahwa kemuliaan seorang wanita dalam islam dan cara memuliakannya yang begitu indah tak akan didapatkan dalam ranah agama atau pun budaya lain di dunia ini.

Nah, dalam era yang sama, yakni sekitar abad ke 7 M, di belahan dunia lain yang lebih dikenal “Eropa”, peradaban dan kebudayaannya masih ditutup oleh kejahiliaan dan kejahilan, sampai-sampai seluruh sejarawan dunia konsensus bahwa era itu di Eropa disebut sebagai era kegelapan; lantaran tersebarnya kejahilan, kezaliman, penindasan, kerusakan moral, dan akhlak.

Di waktu Ummu Mihjan dimuliakan dan dipuji oleh Rasulullah di hadapan para sahabatnya meski yang tersisa hanyalah gundukan kuburnya, di waktu yang sama wanita-wanita eropa dalam pandangan masyarakatnya malah disamakan dengan derajat binatang ternak, tak dihargai, diklaim sebagai makhluk terlaknat, bahkan merupakan hal biasa bila dalam beberapa momen mereka membakar sekelompok wanita dengan tuduhan sebagai penyihir atau pembawa sial. Bahkan, penghinaan mereka terhadap wanita sampai pada taraf perasaan jijik untuk memandang mereka, bukan karena demi memuliakan dirinya.

Di saat Rasul dan para sahabat menghadiri dan menyalati jenazah wanita semisal Ummu Mihjan, kaum laki-laki eropa sangat enggan menghadiri penyelengaran jenazah wanita. Ya, ia bagi mereka seakan identik dengan sihir, khurafat, zina dan perbuatan keji, serta najis dan kehinaan, bahkan sebagai barang dagangan; diperjualbelikan dengan harga yang sangat rendah.[3]

Kondisi wanita eropa di era tersebut sebenarnya tak jauh berbeda dengan kondisi wanita jahiliyah sebelum datangnya islam, di mana saat itu wanita ditindas secara zalim, baik lewat klaim bahwa mereka sumber kesengsaraan dan pembawa sial, dijadikan sebagai “barang” warisan, ataupun lewat praktik penguburan mereka secara hidup-hidup.

Setelah negara-negara eropa kontemporer menetapkan berbagai perundang-undangan untuk menjamin hak dan kemuliaan kaum wanita mereka, seharusnya kondisi kaum wanita di sana lebih baik dibandingkan dengan kondisi mereka di era kegelapan dahulu. Namun, meskipun banyak poin perundang-undangan ini menjamin hak-hak diri mereka sebagai manusia, di sisi lain kemuliaannya malah dipermainkan dan direndahkan dengan mengatasnamakan hurriyah (kebebasan) dan gender.

Mereka menyangka bahwa kemuliaan wanita itu bila fotonya yang tak berbusana itu muncul di halaman depan majalah sex demi tujuan komersial, fulus dan dolar. Atau menjadi SPG dengan pakaian serba minim menemani pameran mobil-mobil seakan nilai dirinya lebih rendah dari mobil-mobil tersebut. Atau menjadi PSK yang dijajakan di jalan-jalan kota eropa bahkan juga di sebagian kota-kota dunia islam sebagaimana penjual kaki lima menjajakan barang dagangannya di trotoar.

Lihatlah, bagaimana kemuliaan wanita di banyak negara (termasuk sebagian negeri islam) saat ini tak jauh berbeda dengan era kegelapan dahulu meskipun dengan cara dan gambaran yang lebih modern. Meskipun di seluruh perundangan-undangan mereka memuat hak-hak wanita, namun mereka secara resmi memberikan hak ekstrim bagi setiap wanita untuk menjadi PSK, seakan-akan ia adalah hak asasi wanita yang wajib dilegalkan. Tentunya, tujuan semua ini adalah demi meraup dolar dan keuntungan materi yang nilainya sangat besar bagi pendapatan negara.

Saudariku…

Islam telah memuliakan dirimu dengan setinggi-tingginya kemuliaan, memberikan dirimu kebebasan untuk meraih hak-hak dirimu, tapi ia juga membatasinya dengan beberapa aturan agar kebebasan itu tak sampai menodai kesucian dan kehormatan dirimu sebagai wanita. Ia telah memberikan kebebasan pada kaum wanita untuk memilih profesi apa saja yang sesuai dengan kodrat dan kemuliaan dirinya, baik dalam dunia bisnis dan aktifitas jual beli seperti Khadijah dan beberapa shahabiyah lainnya, kedokteran dan keperawatan seperti Ummu Waraqah, dan Ummu ‘Athiyah, pendidikan dan fatwa agama seperti Aisyah dan Ummu Salamah, serta bidang-bidang lainnya.

Islam telah memberikan hak-hak dirimu sejak Al-Quran diturunkan 14 abad yang lalu, sehingga Anda tak perlu lagi mencari-cari kemuliaan dari aturan lain selain aturan islam. Sebab, tidak ada aturan, budaya atau agama apa pun yang lebih memuliakan wanita dari pada islam.

Olehnya itu, konsistenlah dalam berislam dan menjalankan ajaran dan syariatnya. Ingatlah, bahwa saat wanita berkulit putih mereka diperjualbelikan laksana binatang ternak, di waktu yang sama Rasul umat islam memuliakan, mendoakan, dan menyalatkan jenazah wanita hitam penyapu masjid, Ummu Mihjan. Bahkan, di era sekarang di mana banyak wanita diperjualbelikan kehormatannya dengan mengatasnamakan kebebasan, Rasul kita sejak 14 tahun yang lalu telah menetapkan aturan kehormatan wanita, dan telah menjanjikan bahwa wanita yang sanggup menjaga kehormatannya adalah wanita terbaik dan pasti dimasukkan ke dalam surga dari pintu mana saja yang ia sukai:

إذا صلت المرأة خمسها، وصامت شهرها، وحفظت فرجها، وأطاعت زوجها قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

Artinya: “Bila seorang wanita telah salat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kemaluannya (kehormatannya), dan menaati suaminya, maka akan dikatakan padanya di akhirat kelak: “Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”[4]

Wallaahu a’lam.

[1] . Artikel ini merupakan insipirasi dari sebuah buku “Aqwamu Qilla” karya Syekh Sulthan Al-Musa.

[2] . Lihat: HR Bukhari (1337) dan Muslim (956). Adapun penamaan wanita ini dengan “Ummu Mihjan” maka disebutkan oleh para sejarawan islam dalam berbagai buku sejarah islam klasik. Lihat: Al-Ishabah (8/314) dan Fathul-Bari (1/553)

[3] . Lihat hal ini dalam buku “Hams Al-Jawari (14)” karya: ‘Ala’ Ismail.

[4] . (HR Ahmad:  1661, dengan sanad hasan). Sumber dari: https://wahdah.or.id/semulia-ummu-mihjan/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here