Kuliah Kerja Nyata merupakan salah satu program wajib yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa disemua perguruan tinggi (PT) baik yang berstatus swasta maupun negeri. Program KKN ini dilaksanakan dalam rangka pengaplikasian Ilmu yang didapatkan oleh setiap mahasiswa dan merupakan salah satu bagian dari tridarma perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat berdasarkan ragam studi dan fokus keilmuan masing-masing mahasiswa.

Masa-masa selama KKN dianggap oleh sebagian mahasiswa sebagai ajang mencari pengalaman, refresing, berkenalan dengan teman baru, dan tempat melepas kepenatan setelah melewati aktivitas perkuliahan selama 6 semester lamanya. Adapula yang menganggap bahwa KKN sebagai ajang penggemukan dan penambahan berat badan untuk mahasiswa. Bagaimana tidak, suasana kampung yang sangat jauh berbeda dengan perkotaan, keindahan alamnya, ketersediaan sumber makanan, kearifan lokal masyarakat nya membuat kita betah untuk tinggal berlama-lama di sana. Di bandingkan dengan suasana kota yang panas, bagi yang kos-kosan setiap hari makannya indomie telur dan ruang lingkup kehidupan yang berjalan secara nafsih-nafsih (sendiri-sendiri). Yah, sungguh sangat membosankan kan? Belum lagi dengan tugas-tugas akhir yang setiap hari juga semakin menumpuk.

Nah, Ikhwani Fillah apa yang kita sebutkan tadi itu merupakan gambaran KKN secara umum. Lalu bagaimana tanggapan para ‘Aktivis Dakwah Kampus’ memaknai kegiatan KKN ini? sejauh mana dampak KKN dengan kerja dakwah para Aktivis kampus? Insya Allah selanjutnya akan kita bahas…

Di sisi lain terkadang ada mahasiswa khususnya para aktivis dakwah dikampus, baik Ikhwan maupun akhwat menganggap bahwasanya KKN ini sebagai ladang dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat, utamanya yang masih awwam dan minim pengetahuan agamanya. Sebagian aktivis dakwah menganggap KKN merupakan fitnah terbesar bagi mereka yang dianggap ajang futurisasi baik dalam ibadah dan juga pergerakan dakwah.

Namun, banyak yang menganggap bahwasanya kegiatan KKN ini merupakan salah satu ladang terbaru dakwah secara langsung di masyarakat. Mereka yang selalu mengisi dan menyibukkan dirinya di kampus dengan agenda-agenda dakwah, telah memiliki bekal yang cukup untuk di amalkan dan di sampaikan kepada masyarakat.

Sebagai seorang Da’i dan penuntut ilmu, baik yang ia peroleh dari taklim, daurah dan membaca buku serta tarbiyah nya, sudah mampu di dakwakan diatas mimbar-mimbar masjid yang ada dimasyarakat. Seorang aktivis dakwah dengan suara bacaan Qur’an nya yang merdu yang ia pelajari dari halaqoh tahsinnya di kampus, itu sudah cukup untuk memimpin sholat berjama’ah di masjid bersama dengan masyarakat. Serta bisa di ajarkan kepada anak-anak mereka disana.

Ikhwani Fillah, selama ber-KKN sekian bulan kita meninggalkan aktivitas dakwah di kampus dan akan banyak agenda-agenda yang terlewatkan dengan ketidakhadirannya kita. Apatah lagi bagi mereka yang punya amanah sebagai seorang ketua, begitu banyak hal yang perlu untuk di selesaikan, namun harus kita tinggalkan. Maka tentunya ini merupakan pilihan yang sangat berat.

Akan tetapi, ketahuilah bahwasanya pilihan yang Allah telah tetapkan itu bukan berarti kita akan terbebas dan terlepas dari sebuah amanah mulia yang disebut dengan “Dakwah”. Ketika Anda berada di tempat KKN, maka berdakwalah di sana dengan semaksimal mungkin. Karena begitu banyak agenda-agenda dakwah yang kita tinggalkan di kampus, maka Allah akan meminta pertanggung jawabannya kepada kita tentang sejauhmana kita menyampaikan Firman-Nya dan sunnah Rasul-Nya yang mulia kepada masyarakat di tempat KKN. Sejauh mana kita berusaha menegakkan kebenaran dan mencegah pada kemungkaran di mana kaki ini senantiasa berpijak. Karena engkau merupakan para da’i dan semuanya akan dituntut untuk menyampaikan itu semua.

Maka berhati-hatilah engkau wahai para da’i, jangan sampai waktumu habis karena silaunya kelalaian dan kenikmatan saat ber-KKN. Karena Allah subhanahu wata’ala akan meminta setiap waktu yang kita gunakan, sejauh mana kita memanfaatkannya.

Ikhwani Fillah, lantas bagaimana dengan mereka yang menganggap bahwa KKN merupakan salah satu penyebab terbesar bagi seorang aktivis dakwah mengalami yang namanya kefuturan, atau melemah baik dalam Ibadahnya maupun dalam pergerakan dakwahnya di kampus setelah ia kembali. Apakah hal tersebut benar adanya?

Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada, dari beberapa aktivis dakwah yang telah mengikuti kegiatan tersebut, memang sangat benar bahwa KKN merupakan fitnah (Ujian) terberat bagi para aktivis dakwah. Ada banyak hal yang berbeda ketika kita sedang berada di tempat KKN dibandingkan dengan saat berada di lingkungan para ikhwah dan para Ustaz. Beberapa agenda rutin sangat susah bisa didapatkan disana, seperti taklim, tarbiyah dan yang lainnya.

Penyebab utama futur sebenarnya bukan pada KKN nya, namun itu semua kembali pada setiap kita yang tak mampu beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru. Terkadang banyak diantara aktivis yang masya Allah sangat menjaga muru’ah (wibawanya) tatkala bersama dengan saudara seiman nya yang lain. Namun, ketika ia berada di tempat KKN makan hilanglah semua wibawa itu pada dirinya. Mereka mulai bermudah-mudahan (baik ikhwan dan akhwat) dengan syariat Allah, seperti misalkan batasan-batasan yang perlu di jaga dengan lelaki atau wanita yang bukan mahram, seolah-olah mereka tak tahu menahu tentang hukum Allah tersebut.

Atau bahkan yang lebih parahnya lagi, di kampus dia terkenal sebagai seorang ustaz dan ustadzah, istiqomah dengan celana cingkrang dan jilbab besar atau bahkan cadarnya. Namum karena ia tak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya, akhirnya hilanglah semua gelar ustaz dan ustadzah, sunnah pun lambat laun mulai di tinggalkan, bahkan semuanya nampak berubah sama halnya dengan orang awam yang tak pernah mengenal dakwah. Setelah kembali pun ia tak mau lagi ikut andil dalam medan perjuangan dakwah, bersua dengan para ikhwah pun tak pernah, bahkan ia lebih senang berkumpul dengan temannya yang lain, dibandingkan dengan saudara seimannya dahulu. Walya’udzubillah…

Belum lagi ketika fitnah terbesar yang melanda yakni fitnah wanita, secara umum sudah banyak kejadian yang menimpa para mahasiswa dengan hal-hal semacam ini, awalnya hanya kenalan karena satu posko dalam setiap kegiatan pun selalu bersama dan saling membantu satu sama lain, lalu muncullah benih-benih perasaan saling suka diantara mereka, kemudian hal yang tidak di inginkan pun terjadi. Belumlah usai masa KKN itu, namun mereka harus terhenti dan di tarik untuk kembali. Adapun secara khusus, mereka para aktivis dakwah yang mengisi hari-harinya dengan dakwah dan tarbiyah, kita yakin Insya Allah senantiasa berada dalam perlindungan Allah Subhanahu Wata’ala…

Ikhwani Fillah, seperti itulah ber-KKN. Memang sangat berat untuk bisa istiqomah, butuh persiapan dan perjuangan dalam menghadapinya. Olehnya itu, sebenarnya hal yang perlu kita siapkan adalah kemampuan kita dalam beradaptasi dengan lingkungan baik kepada teman dan juga masyarakat. Mampu mendewasakan pola fikir dan berupaya untuk tetap menjaga ibadah, hak dan perintah Allah dimanapun kita berada. Sebagaimana wasiat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghifari radhiallahu ‘anhu Beliau bersabda:

اتق الله حيثما كنت
“Bertakwalah, dimanapun engkau berada” (HR. Ahmad)

Inilah yang akan membentengi diri kita untuk tetap istiqomah dan menjauhi segala bentuk maksiat dimanapun kita berada. dan yang tak kalah penting adalah do’a kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, mintalah ketetapan hati dan keistiqomahan dari-Nya karena Dialah Zat yang memiliki hati setiap hamba-Nya.

Sekali lagi, selamat ber-KKN bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar, terkhusus bagi para aktivis dakwah kampus. Selamat mengabdikan diri di masyarakat, buatlah orang-orang berbahagia dengan kehadiran Anda di sana. Luruskan niat, jadikan semua aktivitas Anda di sana semata-mata niat ibadah karena Allah subhanahu wata’ala. Semoga semuanya di mudahkan, amin ya rabbal ‘alamin…

Barakallahu fiikum…
Wajazakumullahu khairan…

Ahkum, Muhammad Ikram (Ketua LDF An-Nida’FADAKOM UINAM)
(Masjid Perjuangan Darul Khair Villa Samata – selasa, 13 November 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here